Edmund Husserl (1859-1938) dikenal sebagai Bapak
Fenomenologi. Gelar ini diatribusikan pada Husserl karena ia yang secara
istimewa mendalami tema filosofis ini. Namun gelar ini tidak pertama-tama
memaksudkan Husserl sebagai pencetus terminologi ini. Kita menemukan istilah
fenomenologi pertama kali digunakan oleh Johan
Heinrich Lambert (1728-1777) dalam karyanya “Phenomenology or the Doctrine of Mere Appearance”.[1]
Lambert memakainya untuk menggambarkan secara umum penampakkan atau kemunculan
segala sesuatu yang ada. Husserl, dengan pengaruh pemikiran Franz Brentano
menggeluti fenomenologi sebagai sebuah tema khusus filsafat yang lebih rigorus. Ia mengeksplorasi fenomenologi
secara lebih serius dan mendalam. Dengan slogan “back to the thing themselves” ia menggagas pemahaman yang lebih
asli atas fenomena-fenomena. Dari Husserl fenomenologi mendapat bentuknya yang
orisinil sehingga kemudian banyak diminati sebagai gaya berfilsafat baru dan
bahkan dikembangkan oleh ilmu-ilmu empiris, seperti sosiologi dan antropologi.
Fenomenologi merupakan kata bentukan
dari kata Yunani, phainomenon[2], yang
artinya ‘yang kelihatan, penampilan, yang tampak (Inggris: appearance)’. Kata ini kemudian diserap ke dalam kata Latin phenomena, ditambah dengan kata logos membentuk kata gabungan phenomenologia. Terminologi ini pertama
kali diperkenalkan oleh Christoph Friedrich Oetinger pada 1736.[3] Dari akar katanya ini,
fenomenologi dapat diartikan sebagai bidang ilmu yang mempelajari tentang
fenomena atau ‘yang-menampakkan.’ Sebagai sebuah terminologi filsafat, istilah ini memiliki
perkembangan dengan beragam percikan elaboratif filosofis. Tema fenomenologi
menjadi salah satu emblem filsafat abad XVIII-XIX dan menjadi pusat perhatian
filsafat abad XX. Tema ini menjadi perhatian yang istimewa dalam Husserl dan
filsuf-filsuf yang kemudian mengembangkan pemikirannya. Fenomenologi kemudian
berkembang menjadi sebuah metode yang tidak hanya berkembang dalam bidang
filsafat, tetapi bahkan juga dipakai sebagai metode teologi dan berbagai
penelitian yang digeluti oleh ilmu-ilmu empiris seperti sosiologi dan
antropologi.
Fenomenologi Husserl dipengaruhi
oleh Franz Brentano, terutama persoalan kesadaran dan intensionalitas.[4]
Dalam Brentano, fenomenologi dibahas berkaitan dengan psikologi deskriptif. Brentano
membuat distingsi yang jelas antara psikologi dan filsafat kesadaran. Dalam
psikologi, kesadaran itu dikaji secara empiris sedangkan dalam filsafat,
kesadaran dilihat sebagai kesadaran yang murni.[5]Penekanan
Brentano terletak pada intensionalitas yang mengalir dari kesadaran mental akan
benda-benda atau fenomen-fenomen yang hadir (present) di hadapan kita.
Fenomenologi empiris Brentano ini
dikembangkan oleh Husserl sehingga menjadi sebuah filsafat yang rigorus. Berbeda dengan Brentano yang
memiliki perhatian lebih pada persoalan psikologi, Husserl memijakkan
fenomenologinya pada korelasi antara esensi kesadaran dan esensi obyek.
Pemahaman akan esensi-esensi ini tidak boleh terkontaminasi oleh unsur
psikologis. Husserl lantas memeprkenalakan terminologi barunya dalam
fenomenologi, yaitu epoch. Epoch[6] merupakan
sebuah upaya untuk menempatkan sikap yang tepat pada obyek yang
diidentifikasikan, dengan metode ‘meletakan dalam kurung.’ ‘Meletakan dalam
kurung’ memaksudkan sikap tidak serta merta mengidentifikasikan obyek/fenomen
dengan segala asumsi-asumsi yang diwariskan atau diajarkan kepada kita, tetapi pertama-tama
kita membiarkan obyek berbicara tentang realitas dirinya. Inilah kebaruan yang
kita temukan dalam Husserl. Epoch
dapat juga dikatakan sebagai ringkasan dari seluruh karya Husserl. Sebab dalam
mengembangkan metodenya ini ia tetap berpijak pada slogan ‘back to the things themselves.’
Slogan Back to the Things Themselves mengungkapkan suatu upaya untk
mengalami obyek murni agar dapat dipahami sebagaimana adanya. Dalam hal ini
segala bentuk asumsi dan lumuran konteks yang membingkai pemahaman kita tentang
obyek mesti direduksi atau tepatnya ditaruh di dalam kurung. Slogan ini terwujud
dalam upaya menaruh di dalam kurung (asumsi-asumsi dan lumuran konteks) melalui
tiga proses reduksi.
Slogan ‘back to the things themselves’ merupakan sebuah upaya untuk
mengalami fenomen sebagaimana adanya. Dalam dunia kehidupan kita sulit untuk
menemukan keaslian dari setiap fonemen yang tampak ke hadapan kita. Kesulitan
itu terutama karena segala asumsi dan lumuran konteks kerap kali mendahului dan
mendominasi kesadaran kita ketika kita berusaha untuk mengidentifikasi sebuah
obyek atau fonemen. Husserl menggagas tiga proses reduksi sebagai
langkah-langkah untuk mengerti sebuah obyek atau fenomen secara murni. Ketiga
proses reduksi itu adalah; reduksi fenomenologis, reduksi eiditis, dan reduksi
transendental.
Reduksi fenomenologis merupakan
sebuah upaya untuk membendung prasangka subyektif dan mengalami fenomen dalam
wujudnya yang murni dan utuh.[7]
Prasangka kerapkali menciptakan identifikasi dasar yang belum tentu sesuai
dengan apa yang sesungguhhnya ditampakkan oleh obyek atau fenomen. Hal inilah
yang membuat pengetahuan kita akan fenomen itu tidak murni. Ketika saya
memutuskan untuk masuk biara misalnya. Fenomena hidup membiara bagi saya,
sebelum masuk ke dalamnya, sangat menarik. Dalam anggapan saya sebelumnya,
dalam biara hidup itu sangat membahagiakan, suci, dibanggakan banyak orang,
disegani, makanannya enak, dan sebagainya. Berbagai anggapan ini juga
dpengaruhi oleh lumuran konteks, artinya menjadi prasangka kebanyakan orang di
sekitar saya. Ketika saya masuk dan mengalami hidup membiara, ternyata hidup
membiara itu bukan hanya soal kelihatan bahagia, suci, makan-minumnya enak dan
sebagainya. Saya benar-benar memahami hidup membiara itu secara murni ketika
saya harus menganggalkan dan menaruh dalam kurung segala asumsi itu dan
mengalami dan menghayati hidup membiara secara murni.
Setelah menaruh dalam kurung segala
prasangka subyektif kita, berikutnya adalah upaya untuk mengungkapkan struktur
dasar obyek. Struktur dasar obyek yang dimaksud adalah ciri dasariah obyek
murni yang memungkinkan kita mengalami obyek yang murni. Hal ini merupakan
sebuah upaya untuk menemukan hakekat obyek atau fenomen. Misalnya ketika saya
mengamati sebuah rumah. Saya harus berusaha menemukan apa hal esensial yang
menjadiakan sebuah rumah itu disebut sebagai rumah. Proses ini dikenal sebagai
reduksi eiditis[8].
Proses reduksi yang ketiga adalah
reduksi transendental. Pada taraf ini metode fenomenologi itu diterapkan pada
subyek sendiri. Kesadaran murni subyek mampu menyaring dalam pengalaman
eksistensialnya apa yang tidak memiliki hubungan timbal balik dengan
kesadarannya sebagai subyek murni.
Dari uraian di atas kita menemukan
penekanan akan peran kesadaran dalam fenomenologi. Kesadaran sebagai titik
pijak fenomenologi memiliki peranan yang besar. Mengingat kesadaran yang
dimaksudkan Husserl selalu tertuju dan dalam intensi memahami obyek murni, kita
dapat membedakannya dengan jelas dengan kesadaran Cartesian. Rene Descartes dan
para filsuf zaman modern lainnya menguraikan kesadaran sebagai kesadaran yang
tertutup. Dengan slogan cogita ergo sum; yang
ada adalah saya yang berpikir, Descartes menekankan kesadaran yang murni itu
sebagai milik ‘saya yang berpikir’. Segala sesuatu di luar diri saya tidak ada
tanpa saya yang memikirkan segala sesuatu itu ada. Ini merupakan suatu anggapan
yang radikal, yang bahkan melenyapkan esensi obyek di luar kesadaran manusia.
Husserl mengeritik kesadaran tertutup ini. Kesadaran pada Husserl merupakan
kesadaran intensional, yang terbuka, yang selalu merupakan kesadaran akan sesuatu.
Inilah yang diwarisi Husserl dari Brentano.
Fenomenologi merupakan suatu upaya
untuk menemukan kebenaran dengan mengamati fenomenon. Fenomenon sebagai obyek
kesadaran dipahami sesuai apa yang tampak dalam pengalaman. Perhatian istimewa
atas apa yang tampak dalam pengalaman memungkinkan kita merumuskan hakekat
segala sesuatu secara jernih. Sehingga tepatlah jika dikatakan bahwa dalam
Husserl fenomenologi berarti ilmu tentang esensi.[9]
Pemikiran ini merupakan kebaruan yang kita temukan dalam Husserl. Esensi segala
yang ada tidak ditemukan dalam uraian metafisis atau pun rumusan spekulatif.
Esensi ditemukan melalui suatu upaya kesadaran yang merujuk (intensionalitas)
kepada realitas (back to the thing itself).[10] Sumbangan penting dari fenomeologi Husserl adalah gagasan
tentang dunia-kehidupan-keseharian (lifeworld).
Kesadaran intensionalitas memungkinkan manusia menyadari
dunia-hidup-kesehariannya. Berbagai fenomena dalam-hidup-keseharian menjadi
tampak jelas hakekatnya. Segala fenomena yang tampak dalam kehidupan kita
sehari-hari kerap kali mengelabui dan menyesatkan kita karena kita tidak mampu
menemukan hakekat dari apa yang tampak itu. Karena itu kita perlu berani
menanggalakan konteks dan prasangka dan berusaha menghayati setiap fenomen itu
secara murni.
[1] Walter Kaufmann, Hegel: A Reinterpretation, New York: Doubleday & Company, Inc., 1966, 148.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar