Selasa, 08 Juli 2014

Fenomenologi Edmund Husserl: Back to the Things Themeselves

      
            Edmund Husserl (1859-1938) dikenal sebagai Bapak Fenomenologi. Gelar ini diatribusikan pada Husserl karena ia yang secara istimewa mendalami tema filosofis ini. Namun gelar ini tidak pertama-tama memaksudkan Husserl sebagai pencetus terminologi ini. Kita menemukan istilah fenomenologi pertama kali digunakan oleh Johan Heinrich Lambert (1728-1777) dalam karyanya “Phenomenology or the Doctrine of Mere Appearance”.[1] Lambert memakainya untuk menggambarkan secara umum penampakkan atau kemunculan segala sesuatu yang ada. Husserl, dengan pengaruh pemikiran Franz Brentano menggeluti fenomenologi sebagai sebuah tema khusus filsafat yang lebih rigorus. Ia mengeksplorasi fenomenologi secara lebih serius dan mendalam. Dengan slogan “back to the thing themselves” ia menggagas pemahaman yang lebih asli atas fenomena-fenomena. Dari Husserl fenomenologi mendapat bentuknya yang orisinil sehingga kemudian banyak diminati sebagai gaya berfilsafat baru dan bahkan dikembangkan oleh ilmu-ilmu empiris, seperti sosiologi dan antropologi.
 
            Fenomenologi merupakan kata bentukan dari kata Yunani, phainomenon[2], yang artinya ‘yang kelihatan, penampilan, yang tampak (Inggris: appearance)’. Kata ini kemudian diserap ke dalam kata Latin phenomena, ditambah dengan kata logos membentuk kata gabungan phenomenologia. Terminologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Christoph Friedrich Oetinger pada 1736.[3] Dari akar katanya ini, fenomenologi dapat diartikan sebagai bidang ilmu yang mempelajari tentang fenomena atau ‘yang-menampakkan.’ Sebagai sebuah terminologi filsafat, istilah ini memiliki perkembangan dengan beragam percikan elaboratif filosofis. Tema fenomenologi menjadi salah satu emblem filsafat abad XVIII-XIX dan menjadi pusat perhatian filsafat abad XX. Tema ini menjadi perhatian yang istimewa dalam Husserl dan filsuf-filsuf yang kemudian mengembangkan pemikirannya. Fenomenologi kemudian berkembang menjadi sebuah metode yang tidak hanya berkembang dalam bidang filsafat, tetapi bahkan juga dipakai sebagai metode teologi dan berbagai penelitian yang digeluti oleh ilmu-ilmu empiris seperti sosiologi dan antropologi.
 
            Fenomenologi Husserl dipengaruhi oleh Franz Brentano, terutama persoalan kesadaran dan intensionalitas.[4] Dalam Brentano, fenomenologi dibahas berkaitan dengan psikologi deskriptif. Brentano membuat distingsi yang jelas antara psikologi dan filsafat kesadaran. Dalam psikologi, kesadaran itu dikaji secara empiris sedangkan dalam filsafat, kesadaran dilihat sebagai kesadaran yang murni.[5]Penekanan Brentano terletak pada intensionalitas yang mengalir dari kesadaran mental akan benda-benda atau fenomen-fenomen yang hadir (present) di hadapan kita.
            Fenomenologi empiris Brentano ini dikembangkan oleh Husserl sehingga menjadi sebuah filsafat yang rigorus. Berbeda dengan Brentano yang memiliki perhatian lebih pada persoalan psikologi, Husserl memijakkan fenomenologinya pada korelasi antara esensi kesadaran dan esensi obyek. Pemahaman akan esensi-esensi ini tidak boleh terkontaminasi oleh unsur psikologis. Husserl lantas memeprkenalakan terminologi barunya dalam fenomenologi, yaitu epoch. Epoch[6] merupakan sebuah upaya untuk menempatkan sikap yang tepat pada obyek yang diidentifikasikan, dengan metode ‘meletakan dalam kurung.’ ‘Meletakan dalam kurung’ memaksudkan sikap tidak serta merta mengidentifikasikan obyek/fenomen dengan segala asumsi-asumsi yang diwariskan atau diajarkan kepada kita, tetapi pertama-tama kita membiarkan obyek berbicara tentang realitas dirinya. Inilah kebaruan yang kita temukan dalam Husserl. Epoch dapat juga dikatakan sebagai ringkasan dari seluruh karya Husserl. Sebab dalam mengembangkan metodenya ini ia tetap berpijak pada slogan ‘back to the things themselves.’
            Slogan Back to the Things Themselves mengungkapkan suatu upaya untk mengalami obyek murni agar dapat dipahami sebagaimana adanya. Dalam hal ini segala bentuk asumsi dan lumuran konteks yang membingkai pemahaman kita tentang obyek mesti direduksi atau tepatnya ditaruh di dalam kurung. Slogan ini terwujud dalam upaya menaruh di dalam kurung (asumsi-asumsi dan lumuran konteks) melalui tiga proses reduksi.
             
            Slogan ‘back to the things themselves’ merupakan sebuah upaya untuk mengalami fenomen sebagaimana adanya. Dalam dunia kehidupan kita sulit untuk menemukan keaslian dari setiap fonemen yang tampak ke hadapan kita. Kesulitan itu terutama karena segala asumsi dan lumuran konteks kerap kali mendahului dan mendominasi kesadaran kita ketika kita berusaha untuk mengidentifikasi sebuah obyek atau fonemen. Husserl menggagas tiga proses reduksi sebagai langkah-langkah untuk mengerti sebuah obyek atau fenomen secara murni. Ketiga proses reduksi itu adalah; reduksi fenomenologis, reduksi eiditis, dan reduksi transendental.
            Reduksi fenomenologis merupakan sebuah upaya untuk membendung prasangka subyektif dan mengalami fenomen dalam wujudnya yang murni dan utuh.[7] Prasangka kerapkali menciptakan identifikasi dasar yang belum tentu sesuai dengan apa yang sesungguhhnya ditampakkan oleh obyek atau fenomen. Hal inilah yang membuat pengetahuan kita akan fenomen itu tidak murni. Ketika saya memutuskan untuk masuk biara misalnya. Fenomena hidup membiara bagi saya, sebelum masuk ke dalamnya, sangat menarik. Dalam anggapan saya sebelumnya, dalam biara hidup itu sangat membahagiakan, suci, dibanggakan banyak orang, disegani, makanannya enak, dan sebagainya. Berbagai anggapan ini juga dpengaruhi oleh lumuran konteks, artinya menjadi prasangka kebanyakan orang di sekitar saya. Ketika saya masuk dan mengalami hidup membiara, ternyata hidup membiara itu bukan hanya soal kelihatan bahagia, suci, makan-minumnya enak dan sebagainya. Saya benar-benar memahami hidup membiara itu secara murni ketika saya harus menganggalkan dan menaruh dalam kurung segala asumsi itu dan mengalami dan menghayati hidup membiara secara murni.
            Setelah menaruh dalam kurung segala prasangka subyektif kita, berikutnya adalah upaya untuk mengungkapkan struktur dasar obyek. Struktur dasar obyek yang dimaksud adalah ciri dasariah obyek murni yang memungkinkan kita mengalami obyek yang murni. Hal ini merupakan sebuah upaya untuk menemukan hakekat obyek atau fenomen. Misalnya ketika saya mengamati sebuah rumah. Saya harus berusaha menemukan apa hal esensial yang menjadiakan sebuah rumah itu disebut sebagai rumah. Proses ini dikenal sebagai reduksi eiditis[8].
            Proses reduksi yang ketiga adalah reduksi transendental. Pada taraf ini metode fenomenologi itu diterapkan pada subyek sendiri. Kesadaran murni subyek mampu menyaring dalam pengalaman eksistensialnya apa yang tidak memiliki hubungan timbal balik dengan kesadarannya sebagai subyek murni.
            Dari uraian di atas kita menemukan penekanan akan peran kesadaran dalam fenomenologi. Kesadaran sebagai titik pijak fenomenologi memiliki peranan yang besar. Mengingat kesadaran yang dimaksudkan Husserl selalu tertuju dan dalam intensi memahami obyek murni, kita dapat membedakannya dengan jelas dengan kesadaran Cartesian. Rene Descartes dan para filsuf zaman modern lainnya menguraikan kesadaran sebagai kesadaran yang tertutup. Dengan slogan cogita ergo sum; yang ada adalah saya yang berpikir, Descartes menekankan kesadaran yang murni itu sebagai milik ‘saya yang berpikir’. Segala sesuatu di luar diri saya tidak ada tanpa saya yang memikirkan segala sesuatu itu ada. Ini merupakan suatu anggapan yang radikal, yang bahkan melenyapkan esensi obyek di luar kesadaran manusia. Husserl mengeritik kesadaran tertutup ini. Kesadaran pada Husserl merupakan kesadaran intensional, yang terbuka, yang selalu merupakan kesadaran akan sesuatu. Inilah yang diwarisi Husserl dari Brentano.
 
            Fenomenologi merupakan suatu upaya untuk menemukan kebenaran dengan mengamati fenomenon. Fenomenon sebagai obyek kesadaran dipahami sesuai apa yang tampak dalam pengalaman. Perhatian istimewa atas apa yang tampak dalam pengalaman memungkinkan kita merumuskan hakekat segala sesuatu secara jernih. Sehingga tepatlah jika dikatakan bahwa dalam Husserl fenomenologi berarti ilmu tentang esensi.[9] Pemikiran ini merupakan kebaruan yang kita temukan dalam Husserl. Esensi segala yang ada tidak ditemukan dalam uraian metafisis atau pun rumusan spekulatif. Esensi ditemukan melalui suatu upaya kesadaran yang merujuk (intensionalitas) kepada realitas (back to the thing itself).[10]  Sumbangan penting dari fenomeologi Husserl adalah gagasan tentang dunia-kehidupan-keseharian (lifeworld). Kesadaran intensionalitas memungkinkan manusia menyadari dunia-hidup-kesehariannya. Berbagai fenomena dalam-hidup-keseharian menjadi tampak jelas hakekatnya. Segala fenomena yang tampak dalam kehidupan kita sehari-hari kerap kali mengelabui dan menyesatkan kita karena kita tidak mampu menemukan hakekat dari apa yang tampak itu. Karena itu kita perlu berani menanggalakan konteks dan prasangka dan berusaha menghayati setiap fenomen itu secara murni.




[1] Walter Kaufmann, Hegel: A Reinterpretation, New York: Doubleday & Company, Inc., 1966, 148.
[2] Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/, diakses 14 Januari 2013.
[3]Ibid.
[4] Donny Gahral Adian, Pengantar Fenomenologi, Depok: Koekoesan, 2010, 24.
[5] Ibid, 7.
[6] Tentang Epoch, Bdk. Stanford Encyclopedia of Philosophy, Edmund Husserl, http://plato.stanford.edu/entries/husserl/#PheEpo, akses pada 23 Mei 2013.
[7] Bdk. Dony Gahral Adian, Op. Cit., 29.
[8] Bdk. Ibid.[9] Prof. Dr. E. Armada Riyanto, CM, Dialog Interreligius, Yogyakarta: Kanisius, 2010, 225.
[10]Ibid., 226.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar